ISAAA
Press Release
Tuesday, Jan. 13, 2004 akarta, 13 Januari 2004 — Pemanfaatan bioteknologi dikalangan petani seluruh dunia terus mengalami pertumbuhan pesat sebesar dua-digit selama tujuh tahun berturut-turut hingga tahun 2003 kemarin. Sepanjang tahun tersebut, luas areal tanaman biotek seluruh dunia meningkat sebesar 15 persen menjadi 67,7 juta hektar. Di Indonesia, penggunaan bibit tanaman bioteknologi diterapkan oleh sejumlah petani kapas di Sulawesi. Demikian Laporan International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications (ISAAA) yang dirilis hari ini. Peningkatan
luas jumlah lahan penggunaan tanaman biotek tersebut termasuk perkiraan
sementara luas kawasan 3 juta hektar yang ditanami kedele biotek di Brazil,
negara yang baru menyetujui penanaman kedele biotek untuk pertama kalinya
di tahun 2003. Penghitungan final untuk luas tanaman biotik di Brazil
diperkirakan akan jauh melebihi angka sementara tersebut. “
Para petani akhirnya telah menentukan pilihan mereka,” kata Clive
James, pimpinan dan pendiri ISAAA. “Mereka terus menggunakan tanaman
biotek karena keunggulan signifikan yang ditawarkan tanaman tersebut secara
agronomi, ekonomi, lingkungan, dan sosial.” Empat negara Top 10 lainnya yang memiliki luas kawasan tanaman biotek setidak-tidaknya 50.000 hektar adalah Australia, India, Rumania, dan Uruguay. Indonesia bersama Filipina serta 6 negara lainnya masuk dalam kategori negara yang memiliki luas tanaman biotek dibawah 50.000 hektar. Di Asia, Cina berhasil meningkatkan luas area penanaman tanaman bioteknya sebesar 33 persen sebagai akibat dari hasil signifikan yang dicapai petaninya untuk area penanaman tanaman kapas Bt (yang memakai bioteknologi). Menurut data yang dikumpulkan ISAAA, Cina berhasil menanam sebanyak 2,8 juta hektar kapas Bt ditahun 2003. Jumlah tersebut meningkat dari 2,1 juta hektar pada tahun sebelumnya. India juga berhasil menggandakan luas area tanaman kapas Bt-nya hingga mencapai 100.000 hektar ditahun 2003. Dari Indonesia disebutkan bahwa para petani kapas di Sulawesi sudah memanfaatkan bioteknologi yang sama. Filipina menanam 20.000 hektar tanaman jagung Bt yang merupakan tanaman pangan biotek pertama di Asia. Seorang petani dari negara tersebut, Edwin Paraluman, yang telah menanam 1,5 hektar tanaman jagung Bt dekat General Santos City, Filipina, mengatakan: “Dengan masuknya musim hama perusak jagung seperti saat ini, kami tidak ingin berspekulasi dengan menanam tanaman jagung non-Bt. Dengan menanam tanaman jagung Bt, saya akan mendapatkan kualitas jagung yang bagus. Jagung tersebut sangat bersih dan keuntungannya sangat baik”. Tanaman biotek kedele terus menjadi favorit dikalangan petani seluruh dunia. Sampai penghujung 2003 lalu, jumlah lahan yang ditanami biotek kedele mengalami kenaikan sebesar 13 persen hingga mencapai 41,4 juta hektar, atau setara dengan 55 persen produksi kedele global. Adanya varietas-varietas baru serta banyaknya negara yang mengeluarkan persetujuan terhadap pemanfaatan teknologi bioteknologi terhadap tanaman ini ikut memicu pertumbuhan pesat yang terjadi di kawasan yang dikhususkan untuk menanan tanaman biotek jagung. Pada tahun 2003, luas areal penanaman yang digunakan untuk jagung biotek meningkat 25 persen menjadi 15,5 juta hektar. Luas tersebut setara dengan 11 persen dari luas total kawasan penanaman jagung seluruh dunia. Begitu juga dengan tanaman kanola. Luas lahan yang digunakan untuk menanam kanola biotek seluruh dunia meningkat 20 persen ditahun 2003 menjadi 3,6 juta hektar, atau 16 persen dari seluruh areal penanaman kanola global. Kapas biotek meningkat hampir 6 persen menjadi 7,2 juta hektar, atau 21 persen dari luas seluruh areal penanaman kapas global. “ Meskipun debat (mengenai pemanfaaatan bioteknologi) masih saja berlangsung di negara-negara Uni Eropa, kami tentu punya alasan untuk tetap optimis bahwa luas area tanaman biotek global dan jumlah petani penanam tanaman biotek akan terus bertambah pada tahun 2004 ini dan selanjutnya,” kata James. Dalam lima tahun kedepan, ISAAA memprediksi 10 juta petani di 25 atau lebih negara-negara akan menanam 100 juta hektar tanaman biotek. Menurut hasil laporan, nilai pasar global tanaman biotek diharapkan meningkat dari sekitar $4,5 miliar tahun ini menjadi $5 miliar atau lebih pada tahun 2005. Ringkasan laporan ekeskutif ini (ISAAA Briefs 30, oleh Clive James) dapat diakses melalui www.isaaa.org. # # #
Top
10 negara-negara yang memanfaatkan bioteknologi pada tanaman: International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications (ISAAA) adalah organisasi non profit dengan jaringan internasional badan-badan pusat yang dirancang untuk memberikan sumbangan bagi upaya penghapusan kelaparan dan kemiskinan melalui pemberian aplikasi tanaman bioteknologi. Clive James, Pimpinan dan Pendiri ISAAA, telah tinggal dan bekerja selama 25 tahun di negara-negara berkembang di Asia, Amerika Latin dan Afrika, dan telah mencurahkan seluruh upayanya di bidang penelitian pertanian dan masalah-masalah pertumbuhan. Belakangan ini, fokus beliau tertuju pada tanaman bioteknologi dan keamanan pangan secara global. |
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi: Endah Dwi
Ekowati Other Translations:
View the Executive Summary of ISAAA Briefs 30-2003: |
|||||||||||||||||||||